Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Setiap harinya aktivitas yang kita lakukan melibatkan orang lain. Tetapi, pada kenyataannya dalam berinteraksi dan membangun relasi tidaklah mudah Manusia memiliki kepribadian yang unik, menurut seorang Psikolog Ghordon Allport. Oleh karena itu, beragam perbedaan pun dapat ditemukan pada masing-masing diri individu, baik dalam hal pengalaman, kebiasaan, sikap, sifat, emosi dan keinginan. Tak dapat dipungkiri banyaknya perbedaan dapat menyebabkan suatu konflik, meskipun terkadang hanya disebabkan oleh masalah sepele. Orang menjadi merasakan ketidaknyamanan dengan tidak saling menyapa, menampilkan ekspresi cemberut dan memendam kekesalan. Bahkan rela menghabiskan sekian banyak waktu, tenaga dan fikiran yang di miliki hanya untuk menguraikan permasalahan atau mencari pembenaran dalam sebuah kesalahpahaman. Jika tidak dipahami dengan seksama hal tersebut dapat merusak sebuah relasi. akibatnya relasi yang terjalin menjadi tidak sehat.

Relasi yang sehat adalah hubungan yang setara dan adil di antara semua pihak yang ada di dalamnya. Artinya, semua orang punya kedudukan yang sama dan tidak ada yang lebih tinggi dibandingkan pihak lainnya. Membangun relasi yang sehat bukan hanya perkara relasi romantis saja tetapi cangkupannya luas dengan seluruh manusia di bumi ini yang ada disekitar kita. Terutama penting bagi relasi terdekat kita seperti dalam keluarga, pertemanan, pekerjaan, pasangan bahkan dengan tetangga dan pengajar. Salah satu cara untuk membangun relasi yang sehat adalah dengan menjaga agar komunikasi yang dilakukan tetap berjalan dengan baik dan positif. Hal ini diperlukan karena seringkali sebuah konflik hadir disebabkan komunikasi yang tidak efektif. Menurut Carl Roger, “kendala utama bagi komunikasi antarpribadi satu sama lain adalah kecenderungan alamiah kita untuk menghakimi, menilai, menyetujui atau membantah pernyataan orang lain ataupun pernyataan kelompok.”

Komunikasi yang efektif dapat dicapai melalui komunikasi empatik. Komunikasi empatik merupakan salah satu keterampilan berkomunikasi untuk mendukung pencapaian tujuan komunikasi dari sisi persuasif maupun informatif. Komunikasi empatik atau komunikasi dengan empati berarti komunikasi yang dilandasi kesadaran untuk memahami dengan perasaan, kepedulian dan perhatian terhadap lawan bicara. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan komunikasi empati adalah dengan memahami orang lain. Jangan mengharapkan orang lain yang harus terlebih dahulu memahami kita. Begitupun sebaliknya, hal yang sama juga berlaku bagi lawan bicara. Sehingga didapatkan saling memahami dan saling menghormati dalam berkomunikasi. Selain itu, untuk mendukung berjalannya komunikasi empatik terdapat prinsip-prinsip yang perlu dipenuhi, yakni:

  1. Keseluruhan bukan sebagian. Maksudnya adalah dalam mengkomunikasikan sesuatu kedua belah pihak diharuskan memahami kejadian yang dimaknai secara keseluruhan, bukan dipisah-pisah. Cobalah terlebih dahulu mencari informasi yang selengkap-lengkapnya sebelum memberikan komentar. Tahanlah terlebih dahulu untuk membentuk opini dan menyatakan pendapat jika hanya memiliki sedikit atau sebagian informasi. Oleh karena itu, lengkapi informasi yang diperlukan jika perlu tanyakan pada pihak lain yang terlibat sehingga mendapatkan gambaran utuh mengenai informasi yang akan dikomunikasikan.
  2. Berusaha mengerti, baru dimengerti. Stephen Covey dalam buku 7 Habits of Highly Effective People mengatakan bahwa dalam berkomunikasi sebaiknya mencoba mengerti lebih dulu, sebelum menuntut untuk dimengerti. Dengan mengerti permasalahan yang sebenarnya dan mengerti lawan bicara, akan membuat kita lebih mudah dalam memahami apa yang dikomunikasikan dan memberikan pendapat yang mudah dimengerti oleh lawan bicara.
  3. Tentukan inti masalah sebelum merespon. Sebelum memberikan pendapat, masukan atau jawaban, tentukan terlebih dahulu secara teliti permasalahan yang dihadapi lawan bicara. Setelah menemukan akar permasalahannya, akan lebih mudah untuk membantu memberikan jawaban, solusi ataupun masukan yang diperlukan lawan bicara.
  4. Keyakinan, Jika berkomunikasi, pastikan hal yang dikomunikasikan benar-benar dikuasai dengan baik dan benar-benar diyakini kebenarannya. Hal ini penting dilakukan, karena pada dasarnya manusia cenderung lebih percaya kepada orang yang memiliki dan menunjukkan keyakinan diri tinggi. Jika kita sudah meyakini apa-apa yang disampaikan, maka akan lebih mudah meyakinkan orang lain.
  5. Kontak mata. Kontak mata merupakan bagian yang penting dalam berkomunikasi. Dengan melakukan kontak mata pada orang yang diajak bicara, hal ini memberi kesan dan pesan kepada orang tersebut bahwa kita bersungguh-sungguh terhadap apa yang dikomunikasikan. Kesungguhan ini akan mendorong lawan bicara memperhatikan dengan seksama apapun yang komunikasikan dan lebih mudah pula bagi mereka memberikan persetujuan atau melakukan apapun yang dianjurkan kepada mereka.
  6. Senyuman. Menurut Maxwell, senyuman merupakan senjata yang paling ampuh yang dapat digunakan untuk membuka komunikasi. Senyuman yang tulus dan hangat dapat mengatasi berbagai hambatan dalam komunikasi seperti ketegangan, kecemasan, kemarahan, kecemburuan dan lain sebagainya.
  7. Saling menyukai. Komunikasi akan efektif, jika orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut saling menyukai. Maksudnya adalah komunikasi baru dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Dapat dinyatakan pula bahwa komunikasi akan lebih efektif bila para komunikan saling menyukai.

Dengan demikian untuk membangun relasi yang sehat dimulai dari komunikasi yang efektif yaitu dengan cara berkomunikasi dengan melibatkan empati. Memiliki pola komunikasi yang baik tentunya akan membuat konflik-konflik yang muncul dalam berelasi dapat menghasilkan suatu yang hal yang positif bebas dari kondisi yang tidak sehat. Kunci utama komunikasi empati dengan tidak mengharapkan di mengerti terlebih dahulu oleh lain, bersikap suportif dan mengurangi defensif serta mau berusaha lebih dulu untuk memahami, peduli, menghargai dan berkasih sayang pada orang lain. Dengan begitu relasi yang dibangun dapat terjalin dengan sehat dan berkualitas.

 

Penulis : Silva Anisa Aulia

Referensi:

Rizkia, Annur Septia. Yuk Ketahui Fakta Mengenai Relasi Sehat! Diakses pada 31 Maret 2021, dari https://www.unala.net/2020/01/16/yuk-ketahui-fakta-mengenai-relasi-sehat/

Masturi, Ade. 2010. Membanung Relasi Sosial Melalui Komunikasi Empatik. Jurnal Dakwah dan Komunikasi. 4 (1). 14-31


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *