Kemajuan tekonologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang secara menyeluruh, menjadikan sebuah era globalisasi yang penuh dengan kecanggihan. Globalisasi tidak hanya berlangsung dalam wilayah kehidupan material saja, seperti ekonomi, budaya, politik, akan tetapi kini proses tersebut meliputi wilayah non materi seperti karakter. kemajuan teknologi di era digital ini seperti halnya dua sisi mata pisau. Ada sisi positif dan sisi negatifnya, tergantung dari pemanfaatan kemajuan teknologi tersebut. Akibat dari pengaruh negatif arus budaya global, dapat melahirkan umat manusia yang tuna karakter, Problematika terbesar yang terjadi di Indonesia sangat berhubungan erat dengan moralitas masyarakat, khususnya pada generasi muda.

Generasi muda merupakan penentu kejayaan dan masa depan suatu bangsa, hal tersebut disebabkan karena generasi muda merupakan ujung tombak kemajuan dan pembangunan  yang menjamin kelangsungan eksistensi suatu bangsa dan negara itu sendiri. Namun sangat disayangkan sebab pada saat ini generasi muda mengalami degradasi moral dengan status yang mengkhawatirkan.

Ancaman Degradasi moral Generasi muda di era digital diantaranya dipengaruhi oleh:
1. Pengaruh lingkungan yang buruk, ditambah dengan kontrol diri dan kontrol sosial yang semakin melemah dapat mempercepat munculnya kenakalan ataupun degradasi moral generasi muda.
2. Pegaruh modernisasi dan globalisasi maka terjadi pergeseran batas kesopanan dan moralitas, dari yang dulunya tidak pantas menjadi biasa-biasa, dari yang dulunya sangat tidak mungkin dibayangkan menjadi kenyataan dan lain-lain.

  1. Pergeseran yang sangat mengerikan dari sisi norma agama, namun dianggap biasa dari sisi norma sosial.

Selaku manusia yang beriman kepada Allāh SWT, tentu semua aktifitas hendaknya didorong dan dilandasi oleh al-Qurān, yang merupakan pedoman sikap hidup muslim. Karena ajaran-ajarannya al-akhlaq al-karīmah berisikan unsur-unsur kejujuran, perbuatan, akidah dan keteguhan di dalam penerapan norma-norma hukum, Al-Quran dapat dijadikan sebagai pembentuk akhlak masyarakat, individu-individu, dan negara. Kandungan Al-Qur’an berisi ajaran-ajaran yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Pencipta, hubungannya dengan sesama manusia, bahkan terhadap makhluk-makhluk lain ciptaan Allah, yang berwujud akidah, ibadah dan akhlak, juga berisi kisah-kisah yang dapat dijadikan peringatan dan i’tibar bagi manusia. Al Quran banyak sekali memberikan pesan-pesan moral dan bimbingan kepada manusia, baik yang berkaitan dengan ibadah, maupun masalah sosial agar manusia tetap berjalan dalam bingkai moral dan kebenaran.

Al Quran for millenial sebagai upaya eksistensi pengembangan karakter berlandaskan nilai-nilai al Quran pada masa pandemi di era global, yang dapat diwujudkan dengan upaya-upaya sebagai berikut:

  1. Nilai-nilai yang terkandung dalam Kisah kisah-kisah dalam al-Qur’an menjadi suatu metode pembelajaran yang sangat perlu diterapkan demi terciptanya generasi rabbani yang membanggakan.
  2. Generasi muda masa kini sangat memerlukan pembelajaran tentang bagaimana meneladani kisah-kisah yang digambarkan dalam Al-Quran, hal ini telah tersirat dalam ayat-ayat kisah teladan seperti ashabul kahfi, maka perlulah mengimplementasikan ayat-ayat kisah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kemerosotan akhlak saat ini dapat kita perbaiki dengan menerapkan keteleladanan para Nabi dan orang-orang terdahulu yang mulia. Keteladanan yang telah nyata dilakukan dalam kisah al-Qur’an memberikan dampak positif bagi semua kalangan. Disinilah menjadi suatu keharusan bagi para pendidik untuk selalu mengayomi, membimbing dan memberikan sikap atau sifat keteladanan yang baik bagi generasi muda. Tak terelakkan lagi bahwa zaman begitu berkembang pesat maka dibutuhkan sikap dan sifat untuk membentuk dan mengayomi pemuda-pemudi bangsa yang membanggakan, tentunya dengan melibatkan pendidik melalui keteladanan. Ayat-ayat kisah teladan ini sangat relevan dan sesuai jika kita terapkan pada masa kini maupun seterusnya. Untuk menerapkan suatu hal yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut maka perlulah menanamkan kesadaran dalam diri bahwa harus diadakan sikap dan sifat yang baik pada diri sendiri.
  3. Penanaman nilai-nilai agama merupakan hal penting yang diharapkan mampu untuk meminimalisir dampak-dampak negatif dari Era Digital yang disebut juga Era Disruptif. Melalui penanaman nilai-nilai agama pada anak diharapkan ke depannya anak memiliki kepribadian yang baik, bertanggung jawab, serta senantiasa mengingat Tuhannya, sehingga apa saja yang dilakukan oleh anak akan memiliki nilai nilai positif dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Teruntuk generasi pemuda, mari kita manfaatkan waktu muda kita untuk hal yang bermanfaat, Karena hidup itu cuma sekali dan tidak tahu sampai kapan. Tetap berpedoman dengan ajaran Islam dan tetap teguh menjalani aturannya. Insya Allah hidup kita akan bermakna, dan bermanfaat bagi sesama. Setiap tantangan disisi lain p

asti ada peluang, untuk itu mari ber inovasi menciptakan peluang, selain itu tantangan demi tantangan diatas menuntut tiga peran yang yang kiranya harus dapat mendominasi, yaitu peran pendidikan (formal, non formal), orang tua, dan agama.

 

 

Penulis : Mae

 

Referensi :

Kajian : Tantangan generasi Muda

repository.iiq.ac.id

Categories: ARTIKEL

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *